Saham SCMA — Surya Citra Media
Ringkasan SCMA
Surya Citra Media (kode SCMA) adalah emiten sektor konsumer non-primer yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pada data terakhir 14 Oktober 2026, harganya Rp173 per lembar — melemah 1,70% dari penutupan sebelumnya di Rp177. Satu lot (100 lembar) berarti Rp17.300.
Dalam 52 minggu terakhir SCMA bergerak antara Rp118 dan Rp472, sehingga harga sekarang berada di paruh bawah rentang setahunnya (16 dari 100). Harganya berada di bawah rata-rata 5, 20, maupun 60 hari — susunan yang biasa disebut tren turun.
Nilai transaksi terakhirnya Rp7,94 miliar sehari — tergolong sedang dan di bawah rata-rata 20 harinya (rasio 0,26×). Likuiditas sebesar ini umumnya cukup untuk posisi ritel, tetapi belum tentu nyaman untuk posisi besar.
RSI 14 harinya 39,3, condong ke sisi bawah, menandakan penurunan belakangan ini lebih besar daripada kenaikannya. RSI mengukur kecepatan pergerakan harga, bukan nilai perusahaannya.
Radar Gorengan Nerfstock memberi SCMA skor 6 dari 100 (pergerakannya tidak menunjukkan ciri saham gorengan yang menonjol), dengan fase "Setelah rontok". Skor ini menandai pola, bukan niat: skor tinggi tidak berarti ada yang dimanipulasi, tetapi risikonya terhadap modal Anda tetap nyata.
Angka SCMA selengkapnya
Sumber: data pasar Bursa Efek Indonesia, diperbarui tiap hari bursa oleh pengolahan data Nerfstock. Angka di halaman ini bersifat informasi, bukan saran keuangan.
Siapa di belakang SCMA
Sumber: laporan profil perusahaan dan komposisi pemegang saham bulanan SCMA. Emiten ini mencatat 11 anak usaha. Ke tangan siapa saham ini sedang berpindah — dan apakah mesin Nerfstock mau menyentuhnya — dibedah di dalam aplikasi.
Satu tangan dengan emiten lain
Ada 5 emiten lain di bursa yang pemegang sahamnya sama dengan SCMA. Kalau beberapa di antaranya ada di portofolio Anda sekaligus, risikonya tidak sebaran seperti yang terlihat — ia menumpuk di satu pemilik.
Sumber: laporan pemegang saham emiten dan data KSEI, plus pengungkapan pemilik manfaat. Bank kustodian, perusahaan efek, dana pensiun, dan reksa dana tidak dihitung sebagai pemilik, karena saham di rekening mereka milik ribuan kliennya. Nama di bawah 5% juga tidak dihitung. Peta lengkapnya ada di Peta Konglomerasi.
Pertanyaan seputar SCMA
Berapa harga saham SCMA hari ini?
Pada pembaruan data terakhir, SCMA berada di Rp173 per lembar, turun 1,70% dari penutupan sebelumnya. Satu lot (100 lembar) setara Rp17.300. Data diperbarui tiap hari bursa.
SCMA saham apa?
SCMA adalah kode saham Surya Citra Media, emiten sektor konsumer non-primer yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Apakah SCMA termasuk saham gorengan?
Radar Gorengan Nerfstock memberi SCMA skor 6 dari 100 dengan label Wajar. Skor menandai pola pergerakan, bukan niat siapa pun, dan bukan tuduhan manipulasi.
Siapa pemilik saham SCMA?
Pemegang saham pengendali SCMA adalah PT Elang Mahkota (86,61%), sementara direksi dan komisarisnya sendiri memegang 0,920%. Angka ini dari laporan komposisi pemegang saham bulanan SCMA.
SCMA masuk papan apa di BEI?
SCMA tercatat di Papan Utama Bursa Efek Indonesia, sejak 16/07/2002.
Saham apa lagi yang satu grup dengan SCMA?
Menurut laporan pemegang saham emiten dan data KSEI, ada 5 emiten lain di BEI yang pemegang sahamnya sama dengan SCMA: SAME (84,83%), SUPA (27,60%), EMTK (21,88%), BUKA (10,49%), CASS. Penghubungnya antara lain Eddy K. Sariaatmadja. Bank kustodian, perusahaan efek, dan dana pensiun tidak dihitung sebagai pemilik di sini, karena saham di rekening mereka milik ribuan kliennya. Ini catatan kepemilikan, bukan penilaian atas emitennya.
Berapa nilai transaksi harian SCMA?
Sekitar Rp7,94 miliar per hari pada data terakhir, tergolong sedang. Likuiditas menentukan apakah batas rugi Anda bisa dieksekusi pada harga yang direncanakan.
Emiten lain di sektor Konsumer Non-Primer
Sebelum membeli SCMA
Tiga bacaan singkat yang menentukan hasil lebih besar daripada pilihan emitennya sendiri: cara menghitung ukuran posisi, cara menentukan batas rugi, dan ciri saham gorengan.
Halaman ini menyajikan data pasar dan penilaian otomatis untuk keperluan informasi dan edukasi. Bukan saran keuangan, bukan ajakan membeli atau menjual efek. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.