NerfstockIDX STOCK INTELLIGENCE
MasukDaftar

Saham DPUM — Dua Putra Utama Makmur

Konsumer PrimerRadar Waspada · 49Likuiditas sangat tipis
Rp111-3,5%per lembar · 1 lot = Rp11.100

Ringkasan DPUM

Dua Putra Utama Makmur (kode DPUM) adalah emiten sektor konsumer primer yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pada data terakhir 14 Oktober 2026, harganya Rp111 per lembar — melemah 3,48% dari penutupan sebelumnya di Rp115. Satu lot (100 lembar) berarti Rp11.100.

Dalam 52 minggu terakhir DPUM bergerak antara Rp49 dan Rp298, sehingga harga sekarang berada di paruh bawah rentang setahunnya (25 dari 100). Harganya di bawah sebagian besar rata-rata bergeraknya, dengan satu rata-rata masih tertembus ke atas.

Nilai transaksi terakhirnya Rp0,96 miliar sehari — tergolong sangat tipis dan di bawah rata-rata 20 harinya (rasio 0,10×). Pada nilai transaksi setipis ini, keluar dari posisi bisa sulit persis ketika Anda paling ingin keluar — batas rugi yang direncanakan belum tentu bisa dieksekusi di harga yang Anda mau.

RSI 14 harinya 46,8, berada di tengah, tanpa dominasi jelas antara kenaikan dan penurunan. RSI mengukur kecepatan pergerakan harga, bukan nilai perusahaannya.

Radar Gorengan Nerfstock memberi DPUM skor 49 dari 100 (beberapa ciri saham gorengan terlihat pada pergerakannya), dengan fase "Setelah rontok". Emiten ini juga menunjukkan ciri likuiditas semu. Skor ini menandai pola, bukan niat: skor tinggi tidak berarti ada yang dimanipulasi, tetapi risikonya terhadap modal Anda tetap nyata.

Angka DPUM selengkapnya

Harga terakhirRp111
Perubahan-3,5%
Tertinggi 52 mingguRp298
Terendah 52 mingguRp49
Posisi dalam rentang25/100
RSI 1446,8
Nilai transaksiRp0,96 M
Rasio volume0,10×
MA 5Rp122
MA 20Rp128
MA 60Rp111
Skor Radar Gorengan49/100

Sumber: data pasar Bursa Efek Indonesia, diperbarui tiap hari bursa oleh pengolahan data Nerfstock. Angka di halaman ini bersifat informasi, bukan saran keuangan.

Siapa di belakang DPUM

Pemilik pengendaliPT RAMA INDONESIA · 59,24%
Papan pencatatanPemantauan Khusus
Sub sektorMakanan & Minuman
IndustriProduk Makanan Pertanian
Direktur utamaIr. BAMBANG PANCA PUTRA YUDIONO
Komisaris utamaSHERLEY CHANDRA HADIPURNOMO
Saham dipegang pengurus—
Tercatat sejak08/12/2015

Sumber: laporan profil perusahaan dan komposisi pemegang saham bulanan DPUM. Ke tangan siapa saham ini sedang berpindah — dan apakah mesin Nerfstock mau menyentuhnya — dibedah di dalam aplikasi.

Pertanyaan seputar DPUM

Berapa harga saham DPUM hari ini?

Pada pembaruan data terakhir, DPUM berada di Rp111 per lembar, turun 3,48% dari penutupan sebelumnya. Satu lot (100 lembar) setara Rp11.100. Data diperbarui tiap hari bursa.

DPUM saham apa?

DPUM adalah kode saham Dua Putra Utama Makmur, emiten sektor konsumer primer yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Apakah DPUM termasuk saham gorengan?

Radar Gorengan Nerfstock memberi DPUM skor 49 dari 100 dengan label Waspada. Skor menandai pola pergerakan, bukan niat siapa pun, dan bukan tuduhan manipulasi.

Siapa pemilik saham DPUM?

Pemegang saham pengendali DPUM adalah PT RAMA INDONESIA (59,24%). Angka ini dari laporan komposisi pemegang saham bulanan DPUM.

DPUM masuk papan apa di BEI?

DPUM tercatat di Papan Pemantauan Khusus — papan tempat BEI menaruh emiten yang memenuhi kriteria tertentu untuk diawasi lebih ketat, misalnya harga sangat rendah, likuiditas tipis, atau kondisi keuangan tertentu. Perdagangan di papan ini punya aturan tambahan, termasuk mekanisme full call auction pada sebagian emitennya.

Berapa nilai transaksi harian DPUM?

Sekitar Rp0,96 miliar per hari pada data terakhir, tergolong sangat tipis. Likuiditas menentukan apakah batas rugi Anda bisa dieksekusi pada harga yang direncanakan.

Emiten lain di sektor Konsumer Primer

Sebelum membeli DPUM

Tiga bacaan singkat yang menentukan hasil lebih besar daripada pilihan emitennya sendiri: cara menghitung ukuran posisi, cara menentukan batas rugi, dan ciri saham gorengan.

Halaman ini menyajikan data pasar dan penilaian otomatis untuk keperluan informasi dan edukasi. Bukan saran keuangan, bukan ajakan membeli atau menjual efek. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.