Ekspektasi matematis: kenapa win rate 70% masih bisa bikin rugi
Satu rumus pendek yang memisahkan strategi dari cerita. Kalau Anda hanya membaca satu artikel tingkat mahir, baca yang ini.
Rumusnya muat dalam satu baris
Ekspektasi = (win rate × rata-rata untung) − (loss rate × rata-rata rugi) − biaya. Hasilnya adalah perkiraan hasil per transaksi bila strategi dijalankan berulang-ulang. Positif berarti strategi menghasilkan; negatif berarti — sesering apa pun menangnya — saldo akan turun.
Contoh yang membuka mata: menang 70% dengan rata-rata untung 2%, kalah 30% dengan rata-rata rugi 6%. Hitung: (0,7 × 2) − (0,3 × 6) = 1,4 − 1,8 = −0,4% per transaksi, sebelum biaya. Win rate 70%, dan tetap bocor.
Win rate dan risk-reward: papan jungkat-jungkit
Win rate tinggi dengan untung kecil-kecil dan rugi besar sekali-sekali adalah profil yang terasa nyaman dan berakhir buruk — persis profil orang yang cepat ambil untung tapi menahan rugi. Kebalikannya, strategi yang hanya menang 40% bisa sangat menguntungkan bila untungnya dua kali lipat ruginya.
Tidak ada angka yang "benar" — yang ada adalah pasangan yang konsisten: win rate 50% butuh rasio untung-rugi di atas 1:1 plus biaya untuk hidup; win rate 40% butuh sekitar 1,5:1 ke atas. Menilai strategi dari win rate saja seperti menilai bisnis dari omzet tanpa melihat biayanya.
Biaya: pemain diam yang selalu menang
Biaya transaksi pulang-pergi di saham Indonesia sekitar 0,4%. Kecil per transaksi, mematikan secara agregat: strategi dengan ekspektasi kotor +0,3% per transaksi adalah strategi rugi begitu biayanya dihitung.
Semakin sering Anda bertransaksi, semakin tinggi palang yang harus dilompati ekspektasi kotor Anda. Ini alasan struktural kenapa memperbanyak transaksi hampir tidak pernah menjadi jalan keluar dari kinerja buruk — dan kenapa setiap angka rekam jejak yang jujur wajib menyebut apakah ia sebelum atau sesudah biaya.
Ekspektasi butuh sampel, bukan anekdot
Dua puluh transaksi belum berbicara apa-apa: keberuntungan masih bisa menyamar sebagai keahlian sejauh itu. Ekspektasi yang dihitung dari 200 transaksi jauh lebih layak dipercaya daripada dari 20 — dan strategi yang bagus di data masa lalu belum tentu bertahan, karena pasar berubah dan penyetelan berlebihan pada masa lalu (overfitting) adalah penyakit menahun industri ini.
Pertanyaan yang memisahkan penjual strategi yang serius dari yang tidak: berapa n-nya, dihitung sebelum atau sesudah biaya, dan apakah transaksi yang gagal ikut dihitung. Tiga pertanyaan itu membubarkan sebagian besar tangkapan layar cuan di media sosial.
Memakai kacamata ini pada siapa pun — termasuk kami
Halaman rekam jejak Nerfstock menampilkan win rate, rata-rata hasil sebelum biaya, dan sesudah biaya, beserta jumlah sinyalnya — karena tiga angka itulah yang dibutuhkan rumus di atas. Silakan hitung sendiri; halaman itu terbuka tanpa akun.
Dan prinsip yang sama berlaku ke mana pun uang Anda pergi: siapa pun yang memamerkan win rate tanpa rata-rata untung-rugi dan jumlah sampelnya sedang bercerita, bukan sedang melapor.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu ekspektasi matematis dalam trading?
Perkiraan hasil per transaksi bila strategi dijalankan berulang: (win rate × rata-rata untung) − (loss rate × rata-rata rugi) − biaya. Positif berarti strategi menghasilkan dalam jangka panjang.
Kenapa win rate tinggi bisa tetap rugi?
Karena besarnya rugi ikut menentukan. Menang sering dengan untung kecil tapi kalah besar sekali-sekali menghasilkan ekspektasi negatif — profil umum orang yang cepat ambil untung tapi menahan rugi.
Berapa win rate yang bagus?
Tidak bisa dijawab tanpa rasio untung-rugi. Win rate 40% dengan untung dua kali lipat rugi lebih baik daripada win rate 70% dengan rugi tiga kali lipat untung.
Berapa banyak transaksi untuk menilai strategi?
Semakin banyak semakin baik; puluhan masih rawan kebetulan. Ratusan transaksi memberi gambaran yang jauh lebih layak dipercaya, dan hasilnya tetap perlu dipantau maju, bukan hanya diuji ke belakang.
Baca juga
Manajemen risiko: matematika yang membuat Anda tetap hidup
Pemula bertanya "saham apa". Yang bertahan bertanya "berapa besar". Urutan pertanyaannya menentukan umur akun.
Cut loss dan stop loss: kapan, berapa, dan kenapa sulit dilakukan
Aritmetikanya tidak simetris — dan itulah seluruh alasan kenapa batas rugi tidak bisa ditawar.
Bandarmologi: apa yang benar-benar bisa dibaca dari data broker
Datanya nyata dan berguna; kesimpulan yang biasa ditarik darinya sering melampaui apa yang bisa didukung data itu.
Tulisan ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal, bukan saran keuangan maupun ajakan membeli atau menjual efek tertentu. Keputusan dan risiko investasi sepenuhnya ada pada Anda.